Jauh dari hingar bingar geliat panggung terang musik Indonesia, Lokananta berdiri tenang menjaga dan merawat keping demi keping rekaman perjalanan negara ini dari Jalan Ahmad Yani Nomor 379, Kerten, Solo, Jawa Tengah.

Berdiri sejak tahun 1956, Lokananta awalnya mengemban tugas untuk memproduksi sekaligus mendistribusikan materi siaran untuk Radio Republik Indonesia dalam bentuk piringan hitam. R. Maladi, Kepala Jawatan RRI, saat itu resah melihat kenyataan lagu Barat begitu mendominasi siaran RRI.

Maladi, yang pernah diangkat menjadi Menteri Penerangan selama dua periode, bersama dua rekannya R. Oetojo Soemowidjojo dan R. Ngabehi Soegoto Soerjodipoero, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Studio dan Kepala Teknik Produksi RRI Surakarta berinisiatif mendirikan pabrik piringan hitam.

Tepat pada tanggal 29 Oktober 1956 pukul 10 pagi waktu Jawa (sekarang Waktu Indonesia Bagian Barat), Lokananta resmi berdiri dengan nama lengkap Pabrik Piringan Hitam Lokananta Jawatan Radio Kementerian Penerangan Republik Indonesia di Surakarta.

Sempat diusulkan bernama Indra Vox, singkatan dari Indonesia Raya Vox, nama Lokananta merujuk pada seperangkat gamelan surgawi dalam cerita pewayangan Jawa yang bisa berbunyi sendiri dengan nada yang indah. Entah ada hubungannya atau tidak, namun hingga hari ini seperangkat gamelan Kyai Sri Kuncoro Mulyo yang ada dalam ruangan studio Lokananta seringkali berbunyi sendiri. Bisa jadi memang benar: nama adalah doa.

Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 215 Tahun 1961, bidang usaha Lokananta kemudian berkembang menjadi label rekaman dengan spesialisasi pada lagu daerah, pertunjukan kesenian, juga penerbitan buku dan majalah. Nama-nama besar seperti Gesang, Sam Saimun, Waldjinah, Buby Chen, dan Jack Lesmana pernah menjadi bagian dari institusi yang kemudian bernama Perusahaan Negara “Lokananta” ini.

Selain koleksi lagu-lagu daerah, Lokananta juga menyimpan rekaman penting sejarah perjalanan bangsa Indonesia, seperti rekaman lagu kebangsaan “Indonesia Raya” versi instrumental gubahan Jos Cleber dengan durasi selama tiga stanza, serta pidato Ir. Soekarno saat pembukaan Konferensi Asia Afrika pertama di Bandung pada tahun 1955.

Medio 70-an hingga akhir 80-an menjadi momen keemasan Lokananta. Keputusan untuk beralih format dari medium piringan hitam ke kaset pada tahun 1972 berbuah manis. Setiap bulan Lokananta mampu melepas 100 ribu keping kaset di pasaran dan disambut baik oleh publik. Pada tahun 1985, dengan diresmikan oleh Menteri Penerangan Harmoko, Lokananta memiliki studio seluas 14 x 31 meter yang memungkinkan untuk menggelar rekaman live dengan tata akustik ruangan yang mumpuni.

Sayangnya, pembajakan menjadi racun yang terus menerus menggerogoti Lokananta sampai ke titik nadirnya. Keputusan pemerintahan era Gus Dur membubarkan Departemen Penerangan pada tahun 1999 menjadi lonceng pengantar ajal Lokananta. Kurun waktu antara tahun 1999 hingga 2000 menjadi titik terkelam dalam perjalanan: Lokananta berhenti produksi.

 

Harapan muncul kembali di tahun 2004. Sesuai Keputusan Direksi Perum Percetakan Negara Republik Indonesia nomor 37/KEP/DIR-PNRI/I/10/2004 tanggal 14 Oktober, status Lokananta akhirnya mendapat kejelasan. Lokananta dilikuidasi dan sisa hasil likuidasi ditetapkan sebagai Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam modal Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI).

Tiga tahun berselang, Lokananta kemudian menjadi bagian Perum PNRI dan namanya berubah menjadi Perum PNRI Cabang Surakarta-Lokananta. Cakupan tugasnya meliputi bidang multimedia, rekaman (kaset dan CD ROM), remastering, dan pengembangan percetakan dan jasa grafika serta kegiatan di dunia penyiaran (broadcasting). Usaha penyelamatan arsip sejarah kemudian mulai bergulir. Saat ini tercatat sudah ada 5 ribu master lagu dalam pita reel yang telah ditransfer dalam bentuk berkas digital.

Perlahan namun pasti, Lokananta saat ini berubah wujud menjadi wadah yang menampung energi seni dari lintas generasi. Mulai dari solois pop Glenn Fredly, sextet pop independen White Shoes and The Couples Company, grup ska/reggae Shaggydog, kolektif Pandai Besi, sampai duo eksperimental Senyawa menjadi representasi generasi musik Indonesia hari ini yang pernah mewarnai Lokananta.

Lokananta juga memfasilitasi musisi-musisi independen yang ingin merilis format rekaman analog dalam bentuk kaset yang bisa diperbanyak sesuai keinginan. Selama tahun 2015, Lokananta menerima pesanan duplikasi kaset hingga 3 ribu keping tiap bulannya. Selain itu, Lokananta juga menyediakan tempat untuk pentas musik dan seni berbagai genre dan selalu membuka pintunya untuk kunjungan ke museum musik yang dikelolanya.

Kedepannya, Lokananta akan mengajak para musisi, terutama di wilayah sekitar Solo dan Yogyakarta, untuk mendistribusikan karya di ranah digital. Saat ini Lokananta tengah menyiapkan sarana untuk streaming katalog-katalog rekamannya. Setelahnya, Lokananta akan menyiapkan mekanisme content agrregator untuk masuk ke beberapa gerai musik digital ternama seperti iTunes, Deezer, dan Spotify.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jerih payah pendahulunya. Dan Lokananta menyediakan ruang bersama bagi kita untuk merawat warisan itu.

 

 

 

Info Duplikasi Kaset:

Titik Sugiyanti - 081393604593,085647021152, pin 7D113F26

 
Info Kunjungan Rombongan/Reservasi Venue Lokananta:
 
Ibu Titik Sugiyanti - 081393604593/085647021152/titiksugiyanti3[at]gmail.com