Djaka Suruh
Djaka Suruh
BRD-019 / Vinyl 12" / 33 1/3 rpm
A1
Babak 1
Djaka Suruh
B1
Babak 2
Djaka Suruh
C1
Babak 3
Djaka Suruh
D1
Babak 4
Djaka Suruh
NOTES

DJAKA SURUH

 

Tiada putusan lain ketjuali satu tudjuan jang dirasa paling utama ialah masuk mendjadi peradjurit Keraton Kediri. Maka dengan hari jang kesal berputus harapan ditinggalkanlah desa kelahiran beserta sanak kadang dan tjalon mertuanja, setelah berita jang disampaikan setjara pribadi oleh Ki Demang Wonokerto sarimbit dianggap benar dan mendjadi suatu kenjataan jang harus ditelan pahir tanpa penawar.

 

            “………….. Aduh – kakang Djaka Suruh, kapeksa pepisahan kakang ……. aku ora bisa pamitan kowe kakang …………….. “

 

Demikianlah ratapan perasaan aju, sekuntum bunga jang sedang mereka menggairah di Kademangan Wonokerto, direnggut dari tangkainja tertantjapkan dalam djempono kedaton sedang ditengah perdjalanan dibawah pimpinan Patih Surenglogo bersama sedjumlah peradjurit pengawal mengiring Prabu Anontokusumo menudju keratin Kediri.

  • Hanja ratap jang menjembul dari hati jang sedih – tangis dan tjutjuran air mata – sendiri dalam djempono kedaton – meninggalkan Ki Demang dan Nji Demang dengan segala kenangan indah jang pernah dipunjai didesanja—
  • Perpisahan tanpa pamitan, hilang tanpa arah bajangan, makin djauh dan makin djauh dari pedesaan, Endang Palupi meninggalkan kekasih –

Apa gerangan sebabnja – mengapa sedu sedan tertumpah – dan sepasang kekasih harus berpisah?

Konon kisahnja Sang Prabu Anontokusumo jang memerintah Keradjaan Kediri sedang bermurung karena Sang Prameswari meninggalkan kedaton, kembali pada Ajah dan Bundanja, Adipati Wirodigdojo di Madiun.

Sjahdan pada suatu hari pasowanan, Pangeran Pati Marbangun putera tunggal Prabu Anontokusumo jang terlambat menghadap, berdatang sembah memohon keterangan kemana dan mengapa Ibunda Prameswari Parwati sampai tiada melengkapi pasowanan menghadap disisi Sang Prabu. Atas pertanjaan puteranda Sang Prabu hanja menerangkan, bahwa tidak hadirnja Sang Prameswari adalah merupakan soal pribadi jang tiada lajak bagi siapapun mentjampuri urusan itu.

Dengan kesal tak puas hati, Pangeran Pati Marbangun mendesak terus sampai berdebat sehingga Sang Prabupun mendjadi murka kepadanja. Dan putera tunggal itu menarik langkah lalu bermohon diri hendak menusul Ibunda Sang Prameswari Parwati ke Madiun.

Maka sepi dan sunji segera meliputi suasana pasowanan dalam kemurkaan Sang Prabu. Gemuruhnja perasaan setiap hamba jang sedang menghadap mendjadikan kegelisahan masing-masing selagi mentjari djalan keluar untuk membebaskan kemurkaan Sang Prabu supaja lekas pulih tenang kembali. Achirnja, atas pertimbangan serta titah Sang Prabu disiapkanlah sepasukan pengawal untuk memeriksa pedesaan dalam ranga melipurkan hari jang sedang gundah. Maka segera berangkatlah sepasukan pengawal dibawah pengawasan Patih Surenglogo mengiringkan Sang Prabu menjusuri wilajah-wilajah pedesaan. 

Disaat jang lain, selagi Pangeran Pati Marbangun ditengah perdjalanan mentjari djedjak Ibunda, diketahuilah djempono kedaton jang teriring bersama peradjurit-peradjurit pengawal berisih seorang wanita. Terkedjutlah hati Pangeran Marbangun, karena hanja tjalon Prameswarilah wanita jang dibojong dengan djempono kedaton.

Maka setjepat larinja kidjang berlari putera tunggal itu melaksanakan niat segera datang ke Madiun.

 

Di Madiun, Sang Prameswari Parwati sedang dilipur ajahanda Adipati Wirodigdojo untuk merelakan hati menerima dengan kesabaran dan kesadaran segala kedjadian jang telah menimpanja.

Dengan tiba-tiba, -“…………aduh – kula ingkang sowan Kandjeng Ibu………… tansah kula padosi dating pundi langgaripun Kandjeng Ibu…………”.

Demikianlah Pangeran Pati Marbangun tanpa pertanda sebelumnja datang menghadap Ibudanja dan segera mengisahkan semua peristiwa jang telah terdjadi di Keraton Kediri. Setelah mendengar semua berita Keraton Kediri, dengan tergesa Adipati Wirodigdojo memerintahkan supaja Putih Himoprodjo setjepatnja menghadap.

Setibanja Patih Himoprodjo, maka segera diutuslah untuk memohon keterangan tentang kebenaran peristiwa jang menimpa Sang Prameswari Parwati dan Pangeran Pati Marbangun kepada Sang Prabu Anontokusumo. Sedangkan Pangeran Pati Marbangun disejogjakan segera memohon pertimbangan kepada adik Adipati di Pasuruan.

 

Dalam lingkar waktu jang lain, suatu ketika Sang Prabu Anontokusumo sedang meresapi indah aju wadjah Endang Palupi mengharapkan kengantan gairahnja guna mengimbangi keserasian petamanan Kraton Kediri, mendadak terganggu datangnja Tumenggung Banjakseto menghadapkan Patih Himoprodjo sebagai utusan dari Madiun. Namun, dengan hampa tangan Patih Himoprodjo diusir tanpa djawaban setelah menghaturkan pesan-pesan Adipiati Wirodigdojo. Dan Endang Palupi, jang djuga mengetahui semua kedjadian itu, tiba-tiba bertambah kepedihan hatinja dan merasa merusak kebahagiaan Sang Prameswari.

Karena Endang Palupi menolak tachta keprameswarian, maka dipertintahkanlah seorang Emban mengiring dan seterusnja mendjaga Endang Palupi keluar dari kedation ditempatkan di Kidul Pasar serta dilarang pulang ke Kademangan Wonokerto.

Sebilang sendja telah berlalu dan Endang Palupi tetap berada di Kidul Pasar dimana tempat itu ternjata berdekatan dengan lapangan untuk latihan para peradjurit Keraton Kediri. Dan dihar-hari kemudian dengan setjara kebetulan bertemulah Endang Palupi dengan Ki Demang Wonokerto jang telah lama mentjarinja. Sedjenak setelah berwawan kata lewatlah Djaka Suruh pulang dari latihan keperadjuritan. Maka bertemulah disini dua kekasih jang telah lama saling merindukan.

Namun kenikmatan pertemuan itu dikedjutkan oleh datangnja seorang peradjurit bernama Ki Teguh jang melapor, bahwa Kediri harus siap siaga hendak berperang. Dengan perasaan jang berat berpamitlah Djaka Suruh serta memohon restu hendak kemedan laga. Sekedjap hanja Djaka Suruh bisa menenangkan suatu bisikan jang paling indah didalam perpisahan dengan kekasihnja:

            -“Jen kakang budal madju ana peperangan aku rusul kakang, aku rusul kakang……………”- 

Dalam waktu singkat, utusan dari Madiun telah pulang dan setelah mendengar Patih Himoprodjo diseret dari Keraton Kediri, maka bersekutulah Adipati Wirodigdojo dengan Tuban ialah Adipati Wonojudo.

            -“Runtuhnja Madiun adalah runtuhnja Tuban”-

 

Demikianlah sembojan jang telah ditjanangkan bersama. Dan, dimulailah perang jang mendahjatkan langit dan bumi. Gugurlah pahlawan dan bumi mulai berlumuran darah. Kediri mendapat pukulan hebat, mundur teratur merasakan kekalahan jang menjeluruh, peradjuritpun kotjar-katjir keparahan.

Tetapi, pada suatu malam jang gelapnjeri dalam menjongsong fadjar jang akan memerah njala, peradjurit-peradjurit Madiun bulnja, dua ksatria bagus muntjul ditengah medan laga menjapu bersih pahlawan-pahlawan jang tinggal, sampai achirnja Adipati Wirodigdojopun menjerah kalah hanja oleh kedua ksatria muda dari Kediri.

Perdebatan tiada berguna dalam penjerahan, hanjalah suatu tindakan jang tegas tjepat harus dikerdjakan segera. Maka dibojonglah Prameswari Parwati dan Pangeran Pati Marbangun dihadapkan kepada Sang Prabu Anontokusumo dengan dua sjarat permohonan:           

Pertama, Sang Prameswari Parwati dan Pangeran Pati Marbangun kembali menduduki tachtanja semula.

Kedua, segera diresmikannja perkawinan kedua ksatria pahlawan judha itu oleh Sang Prabu, dimana peristiwa itu sangat membuat tertjengangnja Sang Prabu, setelah diketahui bahwa pahlawan puteri jang telah memenangkan perang besar itu tiada lain adalah ENDANG PALUPI-.

 

 

           

CREDITS

KETOPRAK MATARAM

TJERITA

DJAKA SURUH

Oleh:

KELUARGA KETOPRAK R. R. I. JOGJAKARTA

PIMPINAN

SOEMARDJONO

 

 

Susunan Pelaku:

Prabu Anantakusuma – Mugirahardjo

Patih Surenglaga – Atmohungkoro

Tumenggung Banjakseta – Kalidi

Pangeran Marbangun – Ngadimin

Patra – Basijo

Bangsa – Suhardjiu

Nji Demang – Sugijem

Ki Demang – Rudjiman

Endang Palupi – Marsidah

Djaka Suruh – Surono

Adipati Wiradigdaja – Glinding

Nji Adipati Wiradigdaja – Parmi

Parwati – Sutini

Patih Himapradja – Pranoto

Emban – R. Notopuspoko

Adipati Wanajuda – Sardjono

Djajengranginan – Sarijanto

Nji Adipati Wanajuda – Santinem

Tumenggung Surajuda – Kapuk

Ki Teguh – Kemin

Praja – Poniman

Bokor – Budi

 

Sutradara:

SOEMARDJONO

RELATED
Lokananta Musik - Music - Orkes Lokanada - The Fourth Asian Games, Souvenir From Indonesia (Part 1)
The Fourth Asian Games, Souvenir From Indonesia (Part 1)
Lokananta Musik - Music - Orkes Lokanada - The Fourth Asian Games, Souvenir From Indonesia (Part 3)
The Fourth Asian Games, Souvenir From Indonesia (Part 3)
Lokananta Musik - Music - Band Borobudur - Njai Roro Kidul
Njai Roro Kidul
Lokananta Musik - Music - Angkasawan R. R. I. Surabaja - Ludruq Semanggi Surabaja
Ludruq Semanggi Surabaja
Lokananta Musik - Music - Band Borobudur - Parade Artis
Parade Artis