PEREKAMAN LAGU KEBANGSAAN INDONESIA RAYA
31 May 2017

Sulit untuk memungkiri jika selama ini Lagu Kebangsaan Indonesia Raya tidak lebih hanya dipahami serta dimaknai sebagai “lagu wajib” semata. Alhasil, kedudukan serta posisinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kurang lebih hanya menjadi elemen musikal pada upacara-upacara resmi pemerintah. Ruh serta untaian makna dari setiap alunan nadanya perlahan-lahan mulai kehilangan esensi serta substansinya.

Kondisi tersebut tentu layak untuk menjadi perhatian semua pihak, mengingat di tengah derasnya gelombang globalisasi, identitas serta jalinan ikatan yang dimiliki oleh anak-anak bangsa perlahan-lahan mulai luntur dan menghilang. Kondisi sosial politik semakin memperunyam serta mengancam nilai-nilai persatuan yang telah hidup selama berpuluh-puluh tahun lamanya.

Setelah sebelumnya menggelar acara “Merayakan Indonesia Raya” pada 30 Oktober 2016, maka pada tanggal 18 hingga 20 Mei 2017 lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan akan merekam ulang Lagu Indonesia Raya di Studio Lokananta, Solo. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Tutorial Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Hal ini menjadi penting untuk dilaksanakan karena selama ini cara serta sikap dalam menyanyikan Lagu Indonesia Raya berbeda-beda. Apakah pada upacara kenegaraan, ataupun pada penyelenggaraan upacara di tingkat yang lebih rendah, seperti upacara 17 Agustus di tingkat kelurahan dan sekolah.

Tidak seragamnya notasi dan standar yang digunakan menjadikan struktur Lagu Indonesia Raya berubah-ubah. Padahal, sebagai identitas bangsa, lagu kebangsaan mutlak memiliki aturan baku terkait dengan struktur lagu maupun juga sikap menyanyikan serta dalam mendengarkannya. Di sisi lain, faktor historis yang melatarbelakangi tidak dapat dinafikan begitu saja. Mengingat, jiwa serta ruh yang terkandung di dalamnya hanya dapat terhubung dalam sebuah narasi sejarah yang utuh.

Keberadaan rekaman 3 stanza Indonesia Raya versi Josef Kleber serta sub master rekaman teks Proklamasi 17 Agustus yang disimpan Lokananta menjadi mata rantai sekaligus jembatan untuk kembali melacak jejak sejarah Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Posisi Lokananta sebagai perusahaan rekaman pertama milik pemerintah menjadi bukti bahwa spirit serta semangat yang diusung tidak jauh berbeda dengan para pendahulunya.

Berbeda dengan aktifitas perekaman lagu Indonesia Raya sebelumnya, lagu kebangsaan ini akan dimainkan dan dinyanyikan oleh putra-putri terbaik bangsa yang tergabung dalam Orkes Gita Bahana Nusantara di bawah binaan Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebagaimana diketahui, Paduan Suara dan Orkestra Nasional “Gita Bahana Nusantara” merupakan gabungan vokalis dan musisi terbaik bangsa hasil audisi dari seluruh provinsi di Indonesia. Gita Bahana Nusantara sejak terbentuk tahun 2003 selalu tampil pada acara pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia di Gedung DPR-MPR dan pada acara peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus di Istana Merdeka Jakarta.

Kegiatan Tutorial Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ini antara lain adalah rekaman lagu Indonesia Raya, dimana lagu ini akan didistribusikan secara meluas ke masyarakat di seluruh penjuru nusantara. Harapannya adalah lagu kebangsaan ini memiliki standar baku dalam memainkan dan menyanyikannya. Adapun produk kedua dari kegiatan ini terkait dengan cara memimpin, sikap serta tata cara dalam menyanyikan. Dimana, nantinya pemerintah akan menerbitkan dan mengeluarkan peraturan pemerintah terkait dengan hal tersebut. Produk terakhir adalah penulisan serta penerbitan buku yang mengupas sejarah sosial Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Rencananya ketiga produk tersebut akan diluncurkan serta dipublikasikan secara meluas kepada masyarakat bersamaan dengan konser musik Lagu Indonesia Raya pada tanggal 28 Oktober 2017 di Jakarta. Sudah selayaknyalah jika lagu kebangsaan kembali menjadi identitas bangsa dan negara Indonesia. Menjadi elemen pembentuk sekaligus perekat seluruh elemen bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika.